Antusias Flower Carnival

The 2018 Malang Flower Carnival (MFC) telah diselenggarakan untuk kedelapan kalinya. Kali ini diadakan pada hari Minggu 6 September di Jalan Ijen Malang, mulai dari Jl Persia. Berlomba dan berakhir di repositori Brawijaya. Meskipun untuk kedelapan kalinya, saya baru saja menyaksikan Malang sebagai warga Malang. Yaelaaaahhhhhhhhhhhh !!! Bukan waktu, tidak mau. Tentunya Anda ingin menonton karnaval seperti itu, tetapi perjuangannya adalah bagaimana Anda tahu itu sering membuat Anda merasa takut. Berdesak-desakan, terlalu panas. Belum lagi beberapa tahun yang lalu pelaksanaan MFC didampingi oleh hujan lebat. Yah looohhh … untuk mendapat bonus mandi.

Yang membuat saya antusias untuk hadir adalah menonton MFC 2018 bukan genus arthropoda. Dari foto-foto Persia MFC tahun lalu, aturan yang saya lihat di media sosial Instagram itu keren. Saya adalah seorang pemburu foto, jadi saya bersemangat untuk berburu foto-foto indah. Sebagai koleksi dan juga bisa mejeng pada akun imun gamma globulin saya tentunya hehehe …. Selain itu promosi sudah gencar dilakukan oleh panitia, billboard informasi di Al Qur’an dan web cukup informatif dan mendorong niat saya . Kali ini acara ini dihadiri oleh lebih banyak peserta, yang dihadiri oleh wisatawan asing, beberapa foto peserta juga ditutupi oleh radar microwave di Malang Malang. Jadi bagaimana bisa tontonan menonton aturan tinggal selangkah lagi terbuang?

 

Antusias Flower Carnival
Antusias Flower Carnival

 

Menurut http://www.pokertiam.net/ program MFC 2018 Mulai pukul 13.00 mulai Dari Persia Jalan Simpang Balapan, sejak pukul 12.00 saya sudah sampai di tempat. Namanya juga seorang pemburu foto, posisinya sangat menentukan bukan? Saya lebih suka disebut sebagai pemburu foto, karena untuk teknik foto saya masih kurang. Dengan hanya mengandalkan unit daya, itu bukan aturan unit daya yang canggih. Saat mendapatkan aturan foto yang bagus dan menarik lebih merupakan andalan saya. Sore itu kota Malang terasa panas terik, dengan topi, payung dan kacamata hitam sangat membantu. Saya mendapat posisi di dekat Gereja Ijen, karena pagar hanya dipasang di sana. Dari panggung Persia di Jalan Simpang Balapan ke ujung depan Gereja Ijen, pagar dipasang di sisi kanan dan kiri, peserta karnaval berjalan di bagian tengah dengan keamanan yang baik, karena penonton dibatasi oleh pagar . Sementara itu, mulai dari Gereja Persia Ijen hingga repositori Brawijaya tanpa pagar dijaga, tetapi bergantung pada Satpol PP, Scout dan petugas dari panitia.

Hingga jam tiga belas.30, tidak ada tanda-tanda para peserta langsung berjalan di arena catwalk. Panasnya sengatan aturan dan perasaan penulis mulai terasa. Mengobrol dengan anggota audiens lain, ternyata beberapa aturan telah ditonton sebelumnya. “Wow, ma’am, tahun lalu dimulai jam 3!” kata seorang ibu. “Pencarangan itu hampir menjadi Magrib!” kata ibu aturan lain. Di sekitar saya, rata-rata, warga Malang antusias menonton MFC sebagai aturan acara yang sangat menarik di kota Malang. Di sekitar tempat saya berdiri penjual minuman, seperti teh botol, air mineral dan jus botolan. Buku bestsellers manis tentu saja karena penonton sudah haus. Di sisi lain menjual bakso, sosis panggang dan segala macam hal. Dijamin tidak kelaparan dan haus. Tetapi untuk dapat mempertahankan posisi aturan yang telah kita tempati, jika kita membiarkannya … jangan berharap itu akan kembali. Karena itu, bisa minum dalam tas sangat membantu. Karena acara tidak segera dimulai, penonton mulai mendorong ke ruang tengah pagar. Ini adalah aturan dalam pendapat saya bahwa koordinasi petugas sangat kurang. Di antara petugas hanya lewat dan berbicara di antara mereka sendiri.

Sekitar pukul empat belas.30 jam, sebagian penonton menyerah. Beberapa Pongo pygmaeus di sekitarku mulai pulang. Bosan menunggu lama, tetapi tidak segera dimulai. Sulit untuk berdiri pada jam 12 di bawah terik matahari untuk menunggu lebih dari beberapa jam. Sekitar pukul 12:45 pagi, suara musik terdengar dari arah panggung dan peserta pertama mulai berjalan. Terima kasih … !! Lelah dan penulis terbayar dengan penampilan keren para peserta MFC. Mulai dari posisi barisan belakang, kota Malang, diikuti oleh barisan penari, diikuti oleh peserta pertama yang menggunakan pakaian emas dewa Hindu dan kemudian secara berurutan.  Botswana unit peserta moneter Dari aturan Persian Gondanglegi dan Turen yang menampilkan kostum cosplay dari bahan yang digunakan Persia. Sisa peserta menampilkan lebih banyak pakaian dengan pernak-pernik bunga dari berbagai tema. Peserta mulai dari anak-anak hingga orang dewasa Pongo pygmaeus, pria dan wanita, dimeriahkan oleh unit moneter Botswana oleh para peserta transgender. Aturan kostum bervariasi dari Persia dalam hal ukuran dan variasi, itu benar-benar menjadi tontonan dari aturan yang sangat menarik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *